
...seni yang mana ?
I. Pada awalnya : Mimesis
Seni pada hakekatnya merupakan bentuk representasi dari realitas sehingga seni tidaklah orisinal dalam otonominya. Artinya seni melihat dan menilik kehidupan sekaligus menjadikan dirinya sebagai refleksi dari realitas. Bilamana ini memungkinkan adalah ketika ritual tahunan terhadap Dionysius dilakukan dalam kebudayaan Helenistik pada lebih kurang 5 abad sebelum tahun masehi dimulai, ritual tahunan dengan pementasan epik kepahlawanan dari Perang Trojan dan seni maupun pementasan ini kemudian dikenal dengan Tragedi (Tragodia) pada masa Aristoteles. Pada saat inilah dalam kebudayaan Barat istilah maupun bentuk 'seni' mulai dikenal sekaligus di-'lembaga'-kan sekaligus juga mulai mengundang wacana terhadapnya. Karena pada intinya bila kita merepresentasikan seni dari kehidupan seharusnya sudah muncul ketika kehidupan (realitas) manusia itu mulai ada. Kemudian ketika tragedi dikatakan sebagai (sebuah) bentuk seni adalah karena efek maupun akibat dari pementasan tersebut yang mampu menggugah, menyadarkan diri serta nurani (katarsis), karena Tragedi itu sendiri adalah paradoks dan didalamnya memiliki struktur cerita (plot) sebagaimana hidup itu sendiri. Sehingga dengan itu dikatakan bahwa seni adalah sebagai penggugah rasa dan emosi dalam realitas kehidupan.
Seni -pementasan Tragedi- pada saat itu adalah kata yang mewakili berbagai karya manusia (craftmenship) mulai dari lukisan, patung hingga teater Tragedi yang diangkat oleh Homer dari realitas Perang Trojan. Sehingga dengan demikian seni adalah sebuah produk refleksi maupun mimesis dari realitas sebenarnya. Plato berpendapat proses imitasi maupun mimesis dari seni adalah daya representasi dari seni yang merupakan kesempurnaan karya, kesempurnaan karya yang didahului oleh kegairahan luar biasa dari diri seniman (penulis, aktor dll) yang melibatkan emosi serta perasaan penonton dalam sebuah teater. Berbeda dengan Aristoteles yang melihat proses mimesis seni terhadap realitas sebagai sebuah proses produksi karya, Plato melihat proses tersebut sebagai sebuah idealisasi (Eidos/Idea) dan tunggal, maksudnya ialah bahwa proses mimesis tersebut bukanlah dalam artian harafiah semata melainkan terdapat gagasan dibaliknya yang muncul dari rasa (roh/Eros), dalam konteks Tragedi gagasan yang dimaksud adalah seni dimaksudkan untuk menggugah dan cermin bagi kehidupan selanjutnya. Hal seperti in pulalah yang pernah diungkapkan oleh Nietzsche dalam memandang seni. Seni muncul sebagai penutup kenyataan yang lahir dari semangat Apollonian yang menyimbolkan semangat Yunani yang penuh kekuatan untuk menciptakan keharmonisan, kejeniusan, keindahan dan simbol cahaya, sementara itu sebaliknya hidup penuh dengan nafsu, kegilaan, keinginan termasuk sikap menyerah yang disimbolkan dengan semangat Dionysian. Dan bagi Nietzsche keduanya harus berjalan seiringan dan merupakan sebuah bentuk kontinum dalam kehidupan dan saling menghasilkan gugahan
II. Seni : Yang Mana ?
Perkembangan wacana mengenai seni selanjutnya sungguh menarik, baik dalam tataran teoritis maupun praksis. Untuk itu uraian dibawah ini bukan bermaksud memilah-milah seni ke dalam kotak-kotak yang lebih kecil melainkan justru mencoba mengungkapkan realitas dari seni itu sendiri seperti yang di-klaim berbagai pihak untuk selanjutnya dirumuskan apa yang dimaksud dengan seni. Adapun uraian dibawah ini secara sengaja mengikuti karakter imajiner yang terdapat dalam dialog pada teks ‘Acastos’ (minus Socrates dan Plato) dengan memasukkan beberapa sari dari pemikiran-pemikiran lain yang pernah ada.
Seni Dalam Perspektif Pragmatisme : Sebagai bentuk pelengkap dan pemberi warna kehidupan
Seni dalam artian ini adalah hakekat dari keindahan dan kesenangan -sebagai posisi kebenaran - yang dicapai dalam hidup. Apapun itu yang menimbulkan sebuah bentuk keriaan secara jasmani dan rohani dan dilihat dalam konteks mengkayakan hidup dapat dianggap sebagai sebuah bentuk seni yang tidak harus dilihat pretensi maupun tendensi yang ada dibaliknya. Tentunya pengadaan seni semacam inipun melaui proses 'peniruan' terhadap realitas alam (an) dalam bentuknya yang melibatkan indera dalam penikmatannya. Terlepas dari nilai baik-buruk, kebenaran maupun keindahan seni ini sangat bersifat publik, artinya seni dalam tataran ini mampu mencapai lapisan paling luar dari kepekaan terhadap keriaan hidup - sebagian menamakan sebagai seni kebanyakan atau seni publik sebagaimana kegunaan praktis dari seni ini dalam menciptakan keriaan, kesenangan serta hiburan sebagai salah satu kebenaran publik. Sejauh apapun upaya seniman dalam proses ber-kesenian-nya, bila dalam tujuan akhirnya adalah kegunaan praktis, seni dalam bentuk ini akan dianggap sebagai bentuk seni pelengkap dan pemberi warna hidup dan bukanlah anggapan bahwa seni adalah hidup itu sendiri, meskipun seringkali terjadi klaim dari pihak seniman yang sering mengatakan bahwa seni mereka pun layak untuk disebut sebagai bentuk kesenian dan tentunya bagi mereka seni adalah hidup mereka sendiri dalam artian naïf dan harafiah.
Proses melihat, mendengar, meniru dan imajinasi sekaligus kebalikannya adalah proses berkesenian, dan dalam konteks ini demi satu tujuan keriaan hidup baik dalam perspektif seniman maupun penikmatnya.
Ilustrasi dari bentuk seni ini dapat dilihat dalam seni-seni rakyat yang telah mengalami reduksi-reduksi substansial dimana klaim atas seni rakyat didapat dari akar kebenaran yang diambil pada awal sebelum reduksi-reduksi itu terjadi.
Seni Dalam Pandangan Utilitaruan : Batasan sebagai media dalam kungkungan nilai guna untuk semua pihak
Yang dimaksud seni dalam tataran ini adalah bentuk resistensi terbesar terhadap klaim seni ideal-Platonis (Eros) dalam pengertian motifnya. Seni dalam perspektif ini melihat bagaimana seni muncul baik dari rohani maupun kehendak seniman dalam menangkap realitas khalayak dalam menyuguhkan kebenaran. Artinya seni ini memiliki motif atas publik. Namun perbedaan dengan seni yang cenderung pragmatis adalah dimana tujuan akhir dari seni ini bukanlahlah keriaan semata melainkan ada yang lebih ingin dicapai dari sekedar itu, -inilah motif utama yang bisa berbentuk dan memiliki tujuan sosial. Seni ini banyak berkembang dikarenakan banyak klaim atas kebenaran yang terjadi pada realitas dan umumnya seni dijadikan klaim kebenaran satu realitas terhadap yang lainnya, sehingga akhirnya nilai-nilai sosial sangat menentukan dalam kehidupan seni ini.
Kemudian apa yang dikatakan seni dalam hal ini adalah ketika sebuah proses kesenian baik secara dalam maupun tidak, berhasil mencapai tujuan akhir atau paling tidak penikmat mengakui kebenaran yang ditawarkan. Disinilah letak keutamaan seni ini. Namun dalam perjalanannya seni ini cenderung mengalami 'ketergelinciran' akibat pengaruh-pengaruh yang terjadi pada kondisi realitas, artinya seni menjadi propagandais. Ilustrasi dari seni seperti dimulai dari seni yang sangat relijius (lukisan Michelangelo pada langit-langit basilica atau gereja di Itali) hingga seni Dada yang meprotes industrialisasi dan mekanisasi perang pada Perang Dunia I. Dan contoh propagandais lain dalam seni ini adalah dari Konstruktivisme Rusia hingga Totaliterianisme Nazi yang melarang seni modern (Avant Garde) –terlepas dari masing-masing usungan yang dibawanya.
Seni Dalam Pandangan Skeptisisme (Nihilisme) : Seni yang mengusung ketidakpercayaan terhadap epistemologi seni - transendensi seni (seni spontan)
Wacana seni dalam konteks ini lebih merupakan resistensi bagi bentuk wacana seni lain yang telah muncul sebelumnya. Seni -dalam terminologi umum- sering dikaitkan dengan elisitas maupun inteletualitas dan memiliki ranah tersendiri. Dalam pandangan ini seni yang ada dianggap tidak membumi dan sulit dimengerti apalagi dinikmati oleh publik secara luas. Seringkali 'seni' pada kenyataannya tidaklah menggambarkan kebenaran apa adanya melainkan kebenaran tingkat tinggi yang sulit untuk dimengerti. Pada posisi ini kelembagaan seni baik secara institusional maupun epistemologis (sejarah estetika) cenderung dikritik karena menciptakan 'jarak-jarak' yang terlalu jauh yang harus ditempuh dalam mengapresiasi karya-karya seni. Akhirnya 'seni' dianggap tidak niscaya dalam hubungannya dengan kebenaran dan realitas dan dipihak lain seni menciptakan ranahnya sendiri dan berada dalam paras yang tinggi termasuk ketika dalam seni terjadi fraktalisasi (fragmentasi/perkembangbiakan) melalui apa yang dikenal dengan seni murni, seni pakai, seni tontonan dan lain-lain. Dalam konteks ini betapa kompleks dan sulit ketika kita 'hanya' ingin mendapatkan keindahan hidup melalui seni ! Bentuk keindahan yang bukan semata keindahan visual yang ingin kita dapatkan - keindahan rohaniah yang tidak perlu melibatkan rasio terlalu dalam dan jauh !
Dalam hal ini cenderung terjadi kritik terhadap bentuk maupun keberadaan seni yang cenderung dan terlanjur fraktal. Seni adalah dan seharusnya seni itu sendiri- art for the sake of art ! - tidak lebih dari itu. Sehingga pada intinya seni dalam konteks ini lebih cenderung subyektif dan individualistik hingga elitis, karena seni yang muncul dari sikap skeptik terhadap seni maupun realitas luarannya ini sangat dipengaruhi oleh inferioritas maupun interiorotas seniman, meskipun mendapat pengaruh dari luarannya. Seniman menjadi sedikit lebih egois dan seni akhirnya menjadi kehidupan pribadi, meskipun tidak menutup kemunginan ada yang merasa terundang olehnya. Ilustrasi besar dari wacana seni ini adalah ketika terjadi pergulatan dalam 'arus-arus besar' realitas ; klasikisme/tradisionalisme versus kontemporer atau modernisme versus post-modernisme.
Seni Ideal ? : Kebangkitan kembali Romantisme dan Ekspresionisme ?
Seni berhubungan dengan rasa dan melibatkan tubuh sebagai hasil dari sebuah alaman dan pemikiran yang dalam. Dan dalam seni terkandung sesuatu yang bukan hanya emosi, lebih seperti sebuah pandangan, sikap, dan pengetahuan. Dalam konteks ini seni tidaklah langsung sebagai sebuah proses imitasi maupun mimesis, terdapat pengkayaan maupun pemaknaan lanjut dalam prosesnya yang timbul dari rasa, emosi seniman itu sendiri terhadap alam, dunia maupun spiritualitasnya (lebbenswelt). Dengan kata lain melalui seni, sang seniman 'menilai' realitas kehidupan dalam wilayah kebenaran (nilai) dan moral. Dan keindahan seni dalam perspektif ini adalah ketika ‘barang’ maupun ‘produk’ seni (the thing) tersebut bisa dikomunikasikan sekaligus dimengerti dan di-'rasa'-kan kembali secara baik oleh khalayak. Dengan kata lain melalui seni-lah komunikasi dari rasa satu ke rasa yang lain atau dari roh satu ke roh yang lain bisa berlangsung dengan perantara antara lain ; pikiran, tubuh, alam dan barang seni (the thing) itu sendiri.
Dipihak lain seni menggambarkan kecintaan terhadap alam dan dunia melalui kesucian maupun gairah yang ditimbulkannya. Seni seperti ini (masih) menjadi sebuah konsepsi seni yang mendekati utuh. Ekspresi seniman yang tanpa pretensi lain diluar hakekat kesenian sebagai motif mendapatkan respon dari khalayak yang merasa seni tersebut mampu menggugah dalam melihat realitas.
III. Kontemporaritas Seni : Quo Vadis ?
Tidak dapat dipungkiri dalam perkembangan serta pemahaman mengenai seni yang berkembang pada kondisi sekarang memerlukan sebuah kemampuan dalam memahami apa yang menjadi latar yang membidaninya, - intertekstulitas.
Dalam pemahaman perkembangan seni kontemporer maka kesederhanaan relasi antara 'makna' sebagai produk roh-rasio dan 'bentuk' sebagai produk rasio-tubuh tidaklah sesederhana dari apa yang kita rasakan melalui indera, melainkan dimensi ruang dan waktu perlu dipahami sebagai variabel atau komponen penting yang turut membangun sebuah 'ruang' pemahaman seni ini- sebuah ruang fase multidimensi kultur yang memiliki berbagai arah perspektif dan perkembangan termasuk didalamnya multidimensi diskursif sebagai gejala kondisi yang kabur. Menurut Kristeva sebuah karya (seni, desain, teks dll) dibuat dalam ruang serta waktu yang real sehingga relasi antara satu karya seni dengan karya seni lainnya harus ada, dengan kata lain dinyatakan bahwa sebuah hasil karya seni tidak berdiri sendiri, tidak mempunyai landasan yang tunggal, tidak memiliki kriteria dalam dirinya sendiri dan tidak otonom. Sehingga dalam sebuah proses berkesenian maupun proses pemahaman dan 'pembacaan' seni, pemahaman akan kontekstulitas seni dengan apa-apa yang diluar dirinya akan menjadi sesuatu yang diperlukan apalagi dalam kondisi 'keterlanjuran' (posmodern dan pasca kematiannya ?) seperti yang terjadi diseputar kita saat ini. Selanjutnya keadaan budaya (pencampuran, inkulturasi, akulturasi, dll) tidak pernah lepas sebagai sebuah latar dari proses seni atau penciptaan dalam wilayah seni (rupa, musik, panggung, arsitektur, sastra dll). Sebuah kondisi kebudayaan atau peradaban bisa jadi dapat dibaca melalui berbagai produk ke-seni-an yang dihasilkan pada masanya atau produk ke-seni-an bisa dijadikan sebagai sebuah alat baca bagi sebuah kondisi budaya atau peradaban -visa versa.
Bila menilik relasi antara interkontekstualitas wilayah seni (kreatif-estetis) dengan wilayah cultural, utamanya dalam perspektif besar kebudayaan dunia, kreatifitas terasa memiliki bentuk-bentuk relasi linier dengan berbagai tanda-tanda sosial dan budaya pada masa-masa klasikisme (Helenis dan Romanis) hingga pada masa awal modernisme, sehingga kreatifitas pada masa-masa itu begitu rasional dan deterministik sejalan (linier) dengan perkembangan ideologi yang diusung. Wilayah kreatif seni dan estetik pada masa tersebut merupakan sebuah wilayah yang sangat eksklusif dan holistik, produk kreatif-estetik adalah sebuah manifestasi akan keluhuran akal budi manusia dalam memandang keberadaannya terhadap alam dan Tuhan, sejalan dengan pandangan pemikir-pemikir Helenis seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Sedangkan kretifitas seni pada masa modern (pasca pencerahan/rennaissans) memiliki jalinan linier yang kuat dengan logosentrisme - sebuah bentuk kepercayaan bahwa bentuk kreatifitas identik dengan progresifitas, kemajuan olah pikir dan inovasi sebagai pencapaian dalam ilmu pengetahuan, dicontohkan bagaimana Picasso frustasi dengan penemuan alat fotografi dan akhirnya melahirkan karya seni lukis Kubisme setelah sebelumnya ia berkutat dengan
Perkembangan, gerakan atau proses seni dalam perspektif keilmuan - determinisme sains (pasca klasikisme)- biasanya dibangun dalam dua bentukan besar yang menjadi motornya, pertama adalah bangunan ideologis dan yang kedua adalah bangunan estetika. Sebagai contoh dalam modernisme sangatlah jelas rasionalitas sebagai sebuah bentuk 'kepercayaan' akan logos menjadi lokomotif ideologi dalam seni dan fungsionalisme maupun minimalisme adalah merupakan mesin estetika modernisme, kemudian pada masa kontemporer (posmodernisme ?) justru yang terjadi adalah tidak adanya sebuah ideologi yang kuat yang mana melahirkan sebuah kritik lanjutan terhadap posmodernisme dimana dikatakan posmodernisme lebih sebagai sebuah kritisisme akan modernitas dengan menghasilkan bentukan-bentukan tandingan yang tanpa dasar yang kuat dengan berlindung kepada pemahaman akan sejarah dan kritik rasionalitas, kecintaan akan kulit luar menjadi sebuah motif estetika desain posmodernisme - dalam perspektif estetika inderawi apakah ini sebuah bentuk pembacaan Neo-Kantian ?
Atau mungkin latar belakang ideologis kreatifitas pos-modern ini semakin memiliki interkontekstualitas yang tinggi sehingga tidak ada satupun ideologi yang sangat menonjol atau mendominasi didalamnya selain ideologi posmodern itu sendiri yang menurut Jencks dilihat sebagai suatu adhoisme radikal atau eklektisisme baru. Suatu turbulensi ideologi yang melahirkan ruang fase multidimensi kultural dalam seni, pemahaman campuran, centang perenang, dan akhirnya lintang pukang menuju kekacauan dalam hirarki tertingginya, hyper-aesthetic dan chaos !
Ilustrasi dari keadaan ini adalah tumpang tindihnya relasi/rujukan antara kode dengan realitas dalam seni. Kondisi ini menjadikan pelapisan-pelapisan dalam seni (superimpose) atau melahirkan hibriditas dalam wilayah seni yang bisa menimbulkan efek baik maupun buruk. Pelapisan dalam seni bisa dikaitkan dengan contoh seperti misalnya bagaimana kalau epik Homer tragedi dicoba difilmkan/diparodikan ? atau dibuat games melalui wahana-ria (video games) atau malah divirtualkan dalam sebuah taman fantasi dimana manusia bisa mengalami Perang Trojan secara langsung !
Ironisnya pelembagaan seni sangat bertanggung jawab terhadap kondisi ini, dicontohkan ketika seorang Damien Hierst -seorang seniman Irlandia- memenangkan sebuah penghargaan seni (instalasi) dari sebuah dewan nasional seni di Inggris pada tahun 1994 atas karyanya berbentuk akuarium dengan kepala kambing yang direndam dalam cairan formaldehida, atau seorang Pierre Manzoni yang sinis dan mengkalengkan kotorannya sendiri dan menjadikannya sebagai karya seni, atau mungkin seorang Duchamp yang memamerkan urinoir (sebagai produk industri) sebagai sebuah karya seni – hyperaesthetic !
Apakah seni seperti itu ? Lalu dimanakah ‘seni’ ?
IV. Mungkin inilah Seni ? (sebuah tawaran)
Seni adalah produksi maupun reproduksi dari realitas sehingga seni bukanlah pelengkap ataupun bagian dari realitas melainkan seni adalah realitas (kehidupan) itu sendiri. Realitas (kehidupan) manusia adalah keber-ada-annya, baik dalam wujud fisik (tindakan, gesture dan lain-lain) yang bisa dicermati secara inderawi maupun kehadiran rasio serta roh yang sulit dicermati oleh indera tetapi kehadirannya mutlak. Oleh karena itu kedalaman rasional yang dilatarbelakangi oleh eksistensi roh dapat menghadirkan wujud tindakan dimana dalam proses tersebut seni lahir. Memang pada bagian lain klaim modernitas terhadap keluhuran rasio selalu muncul dan pada akhirnya melahirkan apa yang kita sebut teknologi, justru disinilah letak 'sedikit' perbedaan antara teknologi yang murni berangkat dari skill rasional dan acapkali menapikan peranan roh, dengan seni yang mendapatkan dukungan roh secara penuh. Sehingga dalam perspektif kemanusiaan teknologi selalu mendapatkan resistensi dalam sifatnya yang destruktif (industrialisasi, distribusi informasi yang tidak terkendali dan lain-lain) sementara seni maupun kesenian cenderung selalu mendapatkan dukungan, dan walaupun terjadi resistensi baginya adalah perkembangan jaman (kebudayaan) itu sendiri yang dipicu oleh modernitas (sifat destruktif dari teknologi), otoritas (status quo) atau pada ranah seni kontemporer resistensi muncul dari kalangan dalam sebagai sebuah bentuk wacana dinamis dan progresif yang memberikan inspirasi selanjutnya.
Inilah yang dimaksud dengan seni sebagai realitas kehidupan manusia. Eksitensi manusia yang terdiri dari roh, rasio dan tubuh adalah perangkat seni utama dengan alam sebagai media besarnya, sementara peranan teknologi adalah dalam rangka menjembatani dialog antara manusia dengan alam dalam berkesenian, thus artinya teknologi merupakan bagian dari seni itu sendiri pada akhrnya ! haruskah ?
Pada perjalanan sejarahnya, epistemologi lah yang telah menjadikan seni sebagai sebuah disiplin -estetika. Apa yang kita lihat melalui produk seni yang terstruktur adalah produk estetika. Yang dimaksud terstruktur adalah bahwa ketika seni itu dikomodifikasi pada paras pertamanya maupun pada paras lanjutannya, artinya motif telah terlebih dahulu muncul dan sedikit menapikan roh (wants who conquered the will), seperti halnya pelembagaan seni. Sedangkan seni pada dasarnya adalah jajaran dari kehidupan yang penuh misteri dimana manusia hanya bisa meraba dan merencanakan, dan yang terjadi pada momentum kejadian hidup adalah sebuah kondisi ke-spontan-an -begitu pula dengan seni seharusnya ?. Dipihak lain pelembagaan seni (termasuk hidup) adalah bentuk determinasi terhadap seni (maupun hidup) itu sendiri, sehingga seni menjadi direncanakan, menunggu order, untuk mencari nama dan keuntungan, politis dan lain-lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar